Tampilkan postingan dengan label Topik Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Topik Utama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2012

BKKBN Tak Sediakan Alat Kontrasepsi Remaja


BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan tidak akan menyediakan alat kontrasepsi khusus untuk remaja.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Sudibyo Alimoesa mengaku, sudah banyak pihak yang meminta diadakan alat kontrasepsi khusus bagi remaja. Hal ini menyusul maraknya seks bebas di kalangan pelajar hingga menyebabkan kehamilan.

“Tapi menyediakan alat kontrasepsi untuk remaja sama sekali bukan solusi dan tidak mendidik. Jadi yang seharusnya dilakukan adalah upaya preventif dengan pembinaan dan penyadaran agar remaja terhindar dari pergaulan bebas. Kami dengan tegas menolak kontrasepsi untuk remaja,” ungkap dia kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Saat ini yang pihaknya lakukan adalah mengadakan program-program tentang kesehatan reproduksi terutama bagi para pelajar perempuan. Remaja perempuan yang lebih banyak dirugikan. BKKBN, dia melanjutkan, juga sudah bekerja sama dengan banyak kampus dan SMA dalam penyediaan tenaga konselor kesehatan reproduksi.

Selanjutnya dibuat komunitas-komunitas di kampus dan SMA yang mengampanyekan bahaya seks bebas. Pihaknya mengklaim hampir seluruh sekolah di berbagai daerah sudah tersentuh program ini.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR Herlini Amran mendesak BKKBN segera meningkatkan sosialisasi program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR). Ini dilakukan sebagai antisipasi meningkatnya prilaku seks bebas pada remaja yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.

Dia menyampaikan, pemerintah harus meningkatkan program sosialisasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja.Dari data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) diperoleh hasil, 97% remaja pernah menonton film porno serta 93,7% pernah melakukan adegan intim bahkan hingga melakukan seks oral.

Solusi Terbaik Saat Terkena Racun Tomcat


KETIKA Anda mengalami gejala-gejala terserang racun tomcat, segeralah cuci dengan air dan beri sabun. Jika masih terasa gatal, gunakan salep Acyclovir lima persen yang bisa dibeli di apotik.

Masyarakat diminta tak panik akan keberadaan tomcat yang kini sedang marak melanda Surabaya. Pasalnya, serangan serangga yang disebut pula Kumbang Rove atau Paederus Littoralis ini dapat dicegah dan ditangani.

Hal tersebut disampaikan oleh Ir Alexandre S Siahaya MT selaku Kepala Bidang Pertanian dan Kehutanan Dinas Pertanian Kota Surabaya.

"Jika terkena serangan tomcat, segera cuci dengan air dan beri sabun. Sabun mandi biasa saja cukup. Itu untuk mematikan racunnya. Jika masih tak mempan, masih gatal, segera ke apotik, gunakan salep Acyclovir lima persen," jelasnya saat dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Selasa (20/3/2012).

Lebih lanjut, Alex pun menyarankan masyarakat untuk membersihkan pekarangan rumahnya yang memiliki rumput-rumput tebal tak terawat.

"Serangga ini mencari rumput tebal, di tempat seperti kebun, halaman rumah, atau pekarangan yang lembap. Karenanya, untuk menghindarinya bersihkan pekarangan," tutur Alex.

Alex pun meminta masyarakat agar tidak menjemur pakaian di malam hari, karena tomcat senang bersarang di pakaian lembap yang disinari cahaya terang dari lampu.

"Juga hindari menjemur baju di malam hari mereka suka tempat lembap dan terang. Kalau malam hari warga menjemur pakaian biasanya di atas jemurannya dipasangkan lampu terang. Nah, tomcat suka berada di sana karena pakaian yang dijemur lembap dan ada cahaya terang. Bahaya jika mereka mengeluarkan toksin di pakaian atau handuk yang dijemur, itu dapat membuat manusia terkena racun," tutupnya.

Sabtu, 05 November 2011

KADER DAN POSYANDU (POS PELAYANAN TERPADU)


Dr. Suparyanto, M.Kes

A. PENGERTIAN

Posyandu adalah sistem pelayanan yang dipadukan antara satu program dengan program lainnya yang merupakan forum komunikasi pelayanan terpadu dan dinamis seperti halnya program kb dengan kesehatan atau berbagai program lainnya yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat (BKKBN, 1989).
Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu , hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat karena di posyandu tersebut masyarakat dapat memperolah pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang sama (Depkes RI, 1990).
Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari keluarga berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana


TUJUAN PENYELENGGARA POSYANDU

Menurunkan angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu ( ibu hamil, melahirkan dan nifas)
Membudayakan NKKBS.
Meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB berta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.
Berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan keluarga dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.


PENGELOLA POSYANDU.

Penanggungjawab umum : kades/lurah
Penggungjawab operasional : tokoh masyarakat
Ketua pelaksana : ketua tim penggerak PKK
Sekretaris : ketua pokja iv kelurahan/desa
Pelaksana: kader Posyandu, yang dibantu petugas KB-KES (Puskesmas).


KEGIATAN / PROGRAM POKOK POSYANDU :

KIA
KB
lmunisasi.
Gizi.
Penggulangan diare.



PEMBENTUKAN POSYANDU.

Langkah – langkah pembentukan:

Pertemuan lintas program dan lintas sektoral tingkat kecamatan.
Survey mawas diri yang dilaksanakan oleh kader Posyandu di bawah bimbingan teknis unsur kesehatan dan KB .
Musyawarah masyarakat desa membicarakan hasil survey mawas diri, sarana dan prasarana posyandu, biaya posyandu
Pemilihan kader posyandu.
Pelatihan kader posyandu.
Pembinaan.


F. KRITERIA PEMBENTUKAN LOKASI POSYANDU.

Pembentukan posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai sedangkan satu posyandu melayani 100 balita.


KRITERIA KADER POSYANDU :

Dapat membaca dan menulis.
Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan.
Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan masyarakat.
Mempunyai waktu yang cukup.
Bertempat tinggal di wilayah posyandu.
Berpenampilan ramah dan simpatik.
Diterima masyarakat setempat.


PELAKSANAAN KEGIATAN POSYANDU.

Posyandu dilaksanakan sebulan sekali yang ditentukan oleh kader, tim penggerak PKK desa/kelurahan serta petugas kesehatan dari puskesmas, dilakukan pelayanan masyarakat dengan system 5 meja yaitu :

meja 1 : pendaftaran.
meja 2 : penimbangan
meja 3 : pengisian kms
meja 4 : penyuluhan perorangan berdasarkan kms.
meja 5 : pelayanan KB dan; Kesehatan

Pelayanan di meja 5 berupa:

Imunisasi
Pemberian vitamin a dosis tinggi berupa obat tetes ke mulut tiap bulan februari dan agustus.
Pembagian pil atau kondom
Pengobatan ringan.
Konsultasi KB-kesehatan

Petugas pada meja 1 s/d 4 dilaksanakan oleh kader Posyandu sedangkan meja 5 merupakan meja pelayanan (kader, jurim, bindes, perawat dan petugas KB).


SASARAN POSYANDU :

Bayi/balita.
Ibu hamil/ibu menyusui.
WUS dan PUS.


PELAYANAN DI POSYANDU

Kesehatan ibu dan anak :1. Pemberian pil tambah darah (ibu hamil),2. Pemberian vitamin a dosis tinggi ( bulan vitamin a pada bulan februarii dan agustus), 3. PMT, 4. Imunisasi.,5. Penimbangan balita rutin perbulan sebagai pemantau kesehatan balita melalui pertambahan berat badan setiap bulan. keberhasilan program terlihat melalui grafik pada kartu kms setiap bulan.
Keluarga berencana, pembagian pil KB dan kondom.
Pemberian oralit dan pengobatan.
Penyuluhan kesehatan lingkungan dan penyuluhan pribadi sesuai permasalahan dilaksanakan oleh kader PKK melalui meja 4 dengan materi dasar dari kms baita dan ibu hamil. keberhasilan posyandu tergambar melalui cakupan SKDN

S : semua balita diwilayah kerja posyandu.
K : semua balita yang memiliki KMS.
D : balita yang ditimbang.
N : balita yang naik berat badannya.


.KEBERHASILAN POSYANDU BERDASARKAN :

Baik/kurangnya peran serta masyarakat: indikatornya D/S
Berhasil tidaknya program posyandu: indikatornya N/D

.DANA
• Dana pelaksanaan posyandu berasal dari swadaya masyarakat melalui gotong royong dengan kegiatan jimpitan beras dan hasil potensi desa lainnya serta sumbangan dari donatur yang tidak mengikat yang dihimpunan melalui kegiatan dana sehat.

.SISTEM INFORMASI POSYANDU (SIP)

Sistem informasi posyandu adalah rangkaian kegiatan untuk menghasilkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan secara tepat guna dan tepat waktu bagi pengelola posyandu. oleh sebab itu sistem informasi posyandu merupakan bagian penting dari pembinaan posyandu secara keseluruhan. konkritnya, pembinaan akan lebih terarah apabila di dasarkan pada informasi yang lengkap, akurat dan aktual. dengan kata lain pembinaan merupakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi karena didasarkan pada informasi yang tepat, baik dalam lingkup terbatas maupun lingkup yang lebih luas.


MEKANISME OPERASIONAL SIP

Pemerintah desa/kelurahan bertanggung jawab atas tersediannya data dan informasi posyandu.
Pengumpul data dan informasi adalah tim penggerak pkk dengan menggunakan instrumen :

catatan ibu hamil, kelahiran /kematian dan nifas oleh ketua kelompok dasa wisma (kader PKK) .
register bayi dalam wilayah kerja posyandu bulan januari s/d desember.
register anak balita dalam wilayah kerja posyandu bulan januari s/d desember.
register wus- pus alam wilayah ketiga posyandu bulan januari s/d desember.
register ibu hamil dalam wilayah kerja posyandu bulan januari s/d desember.
data pengunjung petugas posyandu, kelahiran dan kematian bayi dan kematian ibu hamil melahirkan dan nifas.
data hasil kegiatan posyandu.

catatan : Instrumen/format SIP diatas oleh kader posyandu dengan bimbingan teknis dari petugas kesehatan/PLKB


Tim Penggerak PKK desa/kelurahan bertanggungjawab dalam hal :

Menghimpun data dan informasi dari seluruh posyandu yang ada dalam wilayah desa/kelurahan.
Menyimpulkan seluruh data dan informasi.
Menyusun data dan informasi sebagai bahan pertemuan ditingkat kecamatan (rakorbang).
Puskesmas, PPLKB, kaurbang mengambil data dari desa untuk dianalisis dan kemudian menjadi bahan rakor posyandu di tingkat kecamatan.
Hasil analisis digunakan sebagai bahan menyusunan rencana pembinaan. masalah-masalah yang dapat diatasi oleh pemerintah tingkat kecamatan segera diambil langkah pemecahannya sedangkan yang tidak dapat dipecahkan dilaporkan ke tingkat kabupaten/kotamadya sebagai bahan rakorbang tingkat ll.


STRATA POSYANDU

Strata posyandu dikelompokkan menjadi 4 :

1. Posyandu pratama :

Belum mantap.
Kegiatan belum rutin.
Kader terbatas.

2. Posyandu madya :

Kegiatan lebih teratur
Jumlah kader 5 orang

3. Posyandu purnama :

Kegiatan sudah teratur.
Cakupan program/kegiatannya baik.
Jumlah kader 5 orang
Mempunyai program tambahan

4. Posyandu mandiri :

Kegiatan secara terahir dan mantap
Cakupan program/kegiatan baik.
Memiliki dana sehat dan jpkm yang mantap.

Dari konsep diatas, dapat disimpulkan beberapa indikator sebagai penentu jenjang antar strata posyandu adalah :

Jumlah buka posyandu pertahun.
Jumlah kader yang bertugas.
Cakupan kegiatan.
Program tambahan.
Dana sehat/JPKM

Posyandu akan mencapai strata posyandu mandiri sangat tergantung kepada kemampuan, keterampilan diiringi rasa memiliki serta tanggungjawab kader pkk, lpm sebagai pengelola dan masyarakat sebagai pemakai dari pendukung posyandu.

KADER POSYANDU

1. Pengertian

Kader kesehatan dinamakan juga promotor kesehatan desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat.
Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader: “Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela”. (Zulkifli, 2003)
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat, serta bekerja di tempat yang dekat dengan pemberian pelayanan kesehatan. (Syafrudin, dan Hamidah, 2006)
Kader kesehatan adalah adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat. Dalam hal ini kader disebut juga sebagai penggerak atau promoter kesehatan. (Yulifah, R. dan Yuswanto, TJA. 2005)


2. Tugas kader Posyandu.

1). Persiapan hari buka posyandu.

Menyiapkan alat dan bahan, yaitu : alat penimbangan bayi, KMS, alat pengukur LILA, alat peraga dll
Mengundang dan menggerakkan masyarakatuntuk datang ke posyandu
Menghubungi pokja posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa
Melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas diantara kader posyandu baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan


2). Melaksanakan pelayanan 5 meja.

Meja 1: Pendaftaran bayi, balita, bumil, menyusui dan PUS.
Meja 2: Penimbangan balita dan mencatat hasil penimbangan
Meja 3: Mengisi buku KIA / KMS
Meja 4:1. Menjelaskan data KIA / KMS berdasarkan hasil timbang,2. Menilai perkembangan balita sesuai umur berdasarkan buku KIA. Jika ditemukan keterlambatan, kader mengajarkan ibu untuk memberikan rangsangan dirumah,3. Memberikan penyuluhan sesuai dengn kondisi pada saat itu,4. Memberikan rujukan ke Puskesmas, apabila diperlukan

Meja 5: Bukan merupakan tugas kader, melainkan pelayanan sector yang dilakukan oleh petugas kesehatan, PLKB, PPL, antara lain :1. Pelayanan imunisasi,2. Pelayanan KB,3. Pemeriksaan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui,4. Pemberian Fe / pil tambah darah, vitamin A (kader dapat membantu pemberiannya), kapsul yodium dan obat-obatan lainnya

Untuk meja 1-4 dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja 5 dilaksanakan oleh petugas kesehatan diantaranya dokter, bidan, perawat, juru imunisasi dan sebagainya. (Dinkes jawa timur, 2005)


3). Tugas kader setelah hari buka posyandu.

Memindahkan catatan dalam KMS ke dalam buku register atau buku bantu kader
Mengevaluasi hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan dari posyandu yang akan datang
Melaksanakan penyuluhan kelompok (kelompok dasa wisma)
Melakukan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan) bagi sasaran posyandu yng bermasalah antara lain :

Tidak berkunjung ke posyandu karena sakit
Berat badan balita tetap Selama 2 bulan berturut turut
Tidak melaksanakan KB padahal sangat perlu
Anggota keluarga sering terkena penyakit menular (Dinkes jawa timur, 2005)

Hal-hal yang boleh dilakukan kader dalam deteksi dini tumbuh kembang anak / balita antara lain :

Penimbangan berat badan
Pengukuran tinggi badan
Pengukuran lingkar kepala
Pengukuran lingkar lengan

Adapun 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya dan tidak boleh dilakukan kader, antara lain :

Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui / menemukan status gizi kurang atau buruk dan mikrosefali
Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar
Deteksidini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autism dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (Depkes RI, 2005)

Jumat, 04 November 2011

Pedoman Umum Revitalisasi Posyandu

Sejak terjadinya krisis kegiatan Posyandu juga ikut menurun, oleh karena itu untuk meningkatkan kegiatan Posyandu kembali telah diterbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor :411.3/536/SJ tanggal 3 Maret 1999 tentang Revitalisasi Posyandu. Tetapi dalam pelaksanaannya dan menghadapi era otonomi dan desentralisasi dianggap penting bahwa pedoman tersebut perlu diperbarui dan disesuaikan dengan tuntutan perkembangan. Oleh karena itu telah diterbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor :411.3/1116/SJ tanggal 13 Juni 2001 tentang Pedoman Umum Revitalisasi Posyandu yang ditujukan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia, yang merupakan pembaharuan atau surat edaran Menteri Dalam Negeri yang lalu.

Surat edaran tersebut diharapkan dapat dijadaikan acuan bersama dalam upaya pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar dan peningkatan status gizi masyarakat melalui Posyandu dimasa yang mendatang dengan semangat kebersamaan dan keterpaduan sesuai dengan fungsi masing-masing. Revitalisasi Posyandu ini dititik beratkan pada strategi pendekatan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat dengan akses kepada modal social budaya masyarakat yang didasarkan atas nilai-nilai tradisi gotong royong yang telah mengakar didalam kehidupan masyarakat menuju kemandirian dan keswadayaan masyarakat. Ada 6 point dalam surat edaran tersebut untuk meningkatkan kegiatan Posyandu dan juga dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah yaitu :

Posyandu merupakan upaya pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar dan peningkatan status gizi masyarakat.
Posyandu mampu berperan sebagai wadah pelayanan kesehatan dasar berbasis masyarakat.
Pelaksanaan Posyandu perlu dihimpun seluruh kekuatan masyarakat agar berperan serta secara aktif sesuai dengan kemampuannya.
Posyandu perlu dilanjutkan sebagai upaya investasi pembangunan sumber daya manusia yang dilaksanakan secara merata.
Pemerintah daerah untuk mensosialisasikan dan mengkoordinasikan pelaksanaannya dengan melibatkan peran masyarakat (LSM, ormas, sektor swasta, dunia usaha, lembaga/negara donor dll).
Pedoman ini dapat dipergunakan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan revitalisasi Posyandu yang secara teknis masing-masing daerah dapat menyesuaikan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan